Total Tayangan Laman

Kamis, 12 Januari 2012

FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM


A.      Hakikat Manusia
1)        Filsafat: Berfikir Bebas, Radikal, Sistematis dan Menyeluruh Tentang Sesuatu.
·       Bebas: tidak terikat dengan dogma agama, tradisi, aliran dan sebagainya.
·       Radikal: mendalam sampai keakar-akarnya sampai pada konsekuensi terakhir.
·       Sistematik: yang telah diketahui itu disusun, di organisasikan, di klasifikasi, digolong-golongkan.
·       Menyeluruh: seluruh elemen untuk mencari hakikat sesuatu harus diikuti sertakan dan dikaji.
2)        Menurut An-Nahlawi, Pendidikan Mengandung:
·      Proses yang mempunyai tujuan dan objek.
·      Pendidik yang sebenarnya hanyalah Allah.
·      Pendidikan harus ada langkah-langkah dan tahapan sistematis.
·      Sistem kerja pendidik mengikuti sunnatullah dan aturan agama.
3)        Islam: Penyerahan diri kepada Allah , dan dengan menyerahkan diri kepadanya maka ia memperoleh keselamatan dan kedamaian (unsur penyerahan diri) keselamatan, dan unsur kedamaian.
Filsafat Pendidikan: Pelaksanaan pandangan filsafat dan kaidah filsafat dalam bidang pendidikan. Imam Banardib: filsafat pendidikan ialah ilmu pendidikan yang bersendirikan filsafat atau filsafat yang diterapkan dalam usaha pemikiran dan pemecahan masalah-masalah pendidikan.
Filsafat Pendidikan Islam: pemikiran-pemikiran filosofis yang diambil dari sistem filsafat atau jawaban-jawaban filosofis terhadap masalah pendidikan atau sejumlah postulah yang tidak bertentangan dengan Islam untuk dijadikan pedoman di lapangan pendidikan.
B.      Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan Islam
1)      Ontologi: sebagai cabang filsafat yang ingin mencari dan menemukan hakikat dari sesuatu yang ada (being) seperti Tuhan, manusia dan alam.
·      Being ada dua: menciptakan dan diciptakan, ad yang menyebabkan dan ada yang di akibatkan.
·      Ada yang dapat disandarkan kepada eksistensi Tuhan dan ada disandarkan kepada eksistensi manusia. Jika terjadi konflik antara ada disandarkan kepada Tuhan dan ada disandarkan kepada manusia dalam konsep Islam harus dimenangkan oleh eksistensi Tuhan.
·      Jika terjadi konflik antara otoritas manusia (kultur) terhadap alam (nature) maka seharusnya manusia tidak harus mempunyai otoritas mutlak terhadapnya. Karena manusia-manusia tidak terlibat mengadakan alam itu sendiri.
·      Yang nyata (realitas) sesuatu yang berada pada sesuatu yang merupakan bagian dari yang ada itu sendiri. Realita selalu berdimensi ruang dan waktu, karenanya selalu mengandung pluralitas dan realitivitas. Filsafat Islam memandang realitas pada hakikatnya adalah spiritual. Hakikat spiritual dari realitas terhadap padanya dinamika dan perubahan, yang secara kodrati selalu terjadi dan akan terus terjadi, dan merupakan suatu sunnatullah.
·      Esensi dan Eksistensi: esensi merupakan alam potensi sedangkan eksistensi merupakan alam aktualisasi dari potensi, dalam filsafat Islam persoalan esensi telah selesai yang kembali kepada Tuhan sedangkan eksistensi harus berada dalam keseimbangan, keselarasan sistem, hokum agama dan akal sehat (spritualitas dan moralitas universal).
·      Hakikat kemajemukan (pluralitas) yang realitas kehidupan itu sendiri yang tidak realitas kehidupan itu sendiri yang tidak bisa dihindari, konflik dan ketegangan pada hakikatnya sesuatu yang alamiah dan wajar saja. Untuk perlu ketegangan dalam pluralitas itu di kelola yang baik untuk tumbuhanya dinamika.
·      Hakikat perubahan: yang abadi adalah perubahan itu sendiri, ad yang dapat diamati dan ada yang dapat kelihatan. Perubahan kehidupan kemestaan itu pada hakikatnya merupakan sunnatullah. Yang mekanismenya terkendali dalam hukum-hukum alam yang ditetapkan alam yang ditetapkan sejak proses penciptaan itu terjadi. Perubahan yang terjadi pada eksistensi manusia merupakan tanggung jawabnya sendiri. 
2)      Epistimologi
·         Epistemologi: cabang filsafat yang membicarakan mengenai hakikat ilmu, dan ilmu sebagai proses adalah usaha pemikiran yang sistematik dan metode untuk menemukan prinsip kebenaran yang terhadap pada suatu objek kajian ilmu
·         Objek kajian ilmu dalam Islam:
a.       Ayat-ayat Qauliyah yang melahirkan ilmu agama
b.      Ayat-ayat Kauniyah melahirkan ilmu alam/pasti.
c.       Manusia itu sendiri melahirkan ilmu humaniora
·         Metode memperoleh ilmu secara umum melalui
a.       kasbi/ khushuli dan
b.      ladunni/ khudhori
Cara berfikir kasbi metodik konsisten dan bertahap melalui proses observasi, reseach, eksperimen dan penemuan. Ladunni: proses pencerahan ruhaniyah manusia disebabkan kehadiran cahaya ilahi dalam qalbu manusia. Dengan sinaran ilahiyah qalbu manusia dapat membaca dengan jelas dan terserap dalam kesadaran intelek, seakan-akan orang peroleh ilmu dari Tuhan langsung.
·         Kebenaran Ilmu: ilmu yang kasbi relative kebenarannya.
·         Tujuan memperoleh ilmu:
-          Ilmu untuk kenikmatan
-          Ilmu untuk ilmu
-          Ilmu mengembangkan peradaban
-          Ilmu untuk sarana mendekatkan diri kepada Allah
·         Etika ilmu harus berpihak kepada kebenaran, pembebasan manusia, kemandirian dan keterbukaan.
·         Sarana peroleh ilmu: melalui inderawi dan potensi-potensi internal manusia (nafs, akal, qalb, dan lain-lain).
3)      Aksiologi
  • Aksiologi ialah cabang filsafat mencari hakikat nilai-nilai (value, nilai bisa baik dan bisa pula jahat) yang berkaitan dengan perbuatan manusia dan tindakan seseorang (dataran aplikatif) yang baik itu ma’ruf yang jahat itu al-munkar.
  • Axiologi (Brameldi) ada tiga sasaran yakni moral canduct (tindakan moral) melahirkan ethica: esthetic. Expression (ekspresi keindahan) melahirkan esthetika: dan sociopolitical life, (kehidupan sosial politik) melahirkan ilmu filafat sosial politik.
  • Hakikat baik dan jahat itu bersifat universal dan absolute, etika sosial misalnya harus berprinsip persamaan dan kebersamaan. Keadilan sosial keterbukaan dan musyawarah.
  • Etika agama membicarakan hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, manusia dengan alam dan manusia dengan kebudayaan.
  • Tiga nilai fundamental dalam Filsafat Pendidikan Islam:
1.      Nilai sentral ialah berada pada wilayah titik pusat nilai yang menjadi sumber pengambilan keputusan politik, hokum dan lainnya.
2.      Nilai Sekuler: sebagai penafsiran dan penerapan nilai sentral (inti).
3.      Nilai oprasional yakni lahir dari tindakan sehari-hari yang merupakan pengewajanthan dari nilai sekuler.
  • Nilai Sentral (inti) dalam Islam ialah ma’rifatullah berupa Iman dan tauhid dan mardatillah, ada 3 tauhid menurut Ibnu Taimiyah.
1.      Tauhid Uluhiyah ialah bahwa Allah Maha Tunggal yang paling berhak di sembah, ditaati, dan dipatuhi.
2.      Tauhid Rububiyah, ialah Allah Yang Maha Esa itu yang menciptakan, mengatur perkara-perkaranya dan yang mendidiknya.
3.      Tauhid Al-Asma’ Wa Al-Sifah ialah bahwa tiap-tiap yang berlaku dialam ini bersumber dari perbuatan dan pengaturan Allah, dan kepadanya setiap kesudahan akhir, dan daripadanya pula bermula setiap sesuatu.
  • Nilai sekuler terdiri dari tujuh hubungan:
1.      Dengan Allah: ubudiyah dan Istikhlaf
2.      Dengan masyarakat ta’awun, adalah dan ihsan
3.      Kehidupan dunia: ibtila’
4.      Dengan Ilmu: hubungan fard ‘ain dan kifayah
5.      Kehidupan akhirat: mas’uliyah dan jaza’
6.      Dengan alam: hubungan taskhir dan pembelajaran
  • Hubungan manusia dengan Tuhan adalah hubungan antara hamba dengan majikan, makhluk dan khaliq, ciptaan dan pencipta, hubungan manusia dengan sesamanya, hubungan adalah dan ihsan.
  • Hubungan manusia dengan alam adalah hubungan pengelola (pemimpin) dan yang dikelola (dipimpin) alam merupakan medan empiric bagi manusia untuk kemakmuran manusia dan alam bagian dari dirinya. Kesalahan pengelola akan berakibat fatal bagi kehidupan manusia.
  • Hubungan manusia dengan ciptaannya (kebudayaan) adalah manusia pada dasarnya memegang otoritas dan kekuasaan yang penuh artinya manusia bertanggung jawab untuk apa ciptaannya itu akan diperbuat dan ciptaannya sepenuhnya bergantung pada manusia. Kebudayaan sebagai alat bukan sebagai dipertuhankan nilai operasional diwujudakan dalam:
1.      al-wajibat (hal-hal yang diwajibkan)
2.      al-mandubat (hal-hal yang disunatkan)
3.      al-mahrumat (hal-hal yang diharamkan)
4.      al-makrumat (hal –hal yang dimakruhkan)
5.      al-jaizat (hal-hal yang diperbolehkan)
C.      Fungsi Filsafat Pendidikan Islam
  1. Sebagai landasan pengaruh kepada proses pelaksanaan pendidikan yang berdasarkan ajaran Islam
  2. Melakukan kritik dan koreksi terhadap proses pelaksanaan tersebut
  3. Melaksanakan evaluasi trhadap metode dari proses pendidikan tersebut.
D.      Hakikat Manusia Dalam Perspektif Filsafat Pendidikan Islam
1.      Kejadiannya
·         Asal kejadian manusia pertama ialah persenyawaan antara Tin (Qs Sajadah 32:7), Al-mu’min (23:12), Turab (Qs Al-hajj 22:5, Al-Imran 3:59, Shal-Shal dan Fakhhar (Ar-Rahman 55:14, dan hamain masnun (Qs Al-Hijr 15:26)
·         Awal kejadian manusia pada umumnya melalui proses bioligik melalui pasangan laki-laki dan perempuan (Qs. Al-Mu’minun 23:12-14).
·         Al-Insan dari akar kata Al-Uns atau Anisa (jinak) menunjukkan pada dasarnya manusia itu jinak, dapat menyesuaikan diri dengan realitas hidup dan lingkungannya.
·         Al-Basyar disebut untuk semua makhluk baik laki-laki maupun perempuan, baik secara individual maupun kolektif. Kata basyar adalah jamak dari kata basyarah yang artinya permukaan kulit kepala, wajah, tubuh yang menjadi tempat tumbuhnya rambut, untuk itu kata basyar mengaju kepada manusia dari aspek lahiriyahnya dan mempunyai bentuk tubuh yang sama.
·         Manusia dilihat dari insane maka perkembangan dan pertumbuhannya sangat tergantung perkembangan diri. Lingkungan termasuk pendidikan dan kebudayaan. Sedangkan manusia dari kata basyar sangat tergantung pada alam (apa yang dimakan dan diminumnya).
2.      Potensi Manusia
·         Nafs sinonimnya insane atau al-fard mengacu kepada dzat manusiawi secara keseluruhan Qs. Al-Baqarah 2;48, Ali-Imran 3:185, Al-Maidah 5:45.
·         Akal di sebutkan dalam bentuk kata kerja yang mengacu kepada unsur pemikiran manusia dan akal sebagai penopang agama dan tiang agama. Menurut Al-Aqqad bahwa Al-Lubbu adalah akal yang mampu mengetahui dan memahami, akal merupakan sumber pengetahuan dan pemahaman yang terdapat di dalam otak manusia (Qs. Al-Baqarah 2:73, 159-164).
·         Al-Qolb (Al-Fuad, Shadr, dan Shudur) yang juga menunjuk kepada Al-qalb (Al-Hajj 22:32, Al-Maidah 5:41). Imam bersemayam di Qalbu, kata ini digunakan berkaitan dengan emosi dan akal, tidak menunjuk kepada unsur-unsur biologis, ia merupakan dasar dari fitrah yang sehat, perasaan, iman, kemauan, control pemahaman dan alat ma’rifah ke ilmu.
·         Ruh: tidak didapat batasannya dalam al-qur’an. Ruh dikaitkan di arti pembawa wahyu yakni Jibril, rahasia ilahi yang denganya tanah liat kering menjadi manusia pemberi hidup, dan Al-Qur’an (Qs. Al-Hajj 22:29, Qs. As-Sajadah).
E.      Perpormance Manusia
Rasional: berangkat dari potensi-potensi manusia, funsi-fungsi manusia, keterkaitan dengan lingkungan baik fisik maupun sosial budaya, hakikat insane sendiri maka tampilnya menjadi makhluk paradoksal. Ia bukan malaikat, bukan iblis, dan bukan pula hewan apalagi syetan, tetapi manusia mencakup semua itu, artinya, manusia itu memiliki sifat-sifat kehewanan. Keiblisan dan kemalaikatan.
Menurut murtadha Muthahari perbedaan mendasar antara manusia dan hewan terletak pada Imam dan ilmu (sains).
Dr. Alexi Carrel (seorang peletak dasar humaniora di Barat) manusia adalah makhluk yang misterius, karena derajat keterpisahan manusia dari dirinya berbending terbalik dengan perhatiannya yang demikian tinggi trhadap dunia yang ada diluar dirinya. Implikasi dari padadoksal tersebut manusia menampakkan sifat-sifat negative.
Sifat-sifat positif itu ditunjukkan dengan tugas-tugas manusia dibumi (akan dibicarakan) dan sifat-sifat negatif tersebut antara lain:
-          Putus asa
-          Tidak berterima kasih
-          Berkeluh kesah
-          Amat kikir
-          Membantah
-          Melampaui batas
-          Purba sangka

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar