Total Tayangan Laman

Kamis, 19 April 2012

URGENSI PENERAPAN PEMBELAJARAN AKTIF DI PERGURUAN TINGGI GUNA MENCETAK CALON PENDIDIK YANG KOMPETEN DALAM MENDESAIN PEMBELAJARAN AKTIF DAN MENYENANGKAN

Oleh : Wiji Winardi 
NIM: 08410034 
Dunia pendidikan kita saat ini tengah mengalami krisis yang amat serius, hal demikian bukan hanya disebabkan oleh rendahnya anggaran untuk pendidikan dari pemerintah untuk membiayai kebutuhan vital dunia pendidikan, akan tetapi juga karena faktor lemehnya tenaga ahli, visi serta politik pendidikan nasional yang tidak jelas. Dalam berbagai forum seminar muncul berbagai kritik “konsep pendidikan telah tereduksi menjadi pengajaran, dan pengajaran lalu menyempit menjadi kegiatan dikelas”. Sementara yang berlangsung dikelas tak lebih dari kegiatan guru/dosen mengajar murid/mahasiswa dengan mengejar target kurikulum serta nilai UAN untuk siswa disekolah mulai dari tingkat dasar sampai menengah. Sisi lain dari kritik tersebut menunjukan baha proses pendidikan pada jenjang universitas kurang sekali memberikan tekanan pada pembentukan kematangan potensi dari dari didik tapi lebih pada hapalan dan pemahaman yang sifatnya kognitif. Akibatnya ketika mereka masuk ke dunia yang sesunggunya pasca study mental dedikasi kemanirianya belum sepenuhnya terbentuk. Akibat lebih lanjut, dunia kampus seakan menjadi dunia yang berbeda/terpisah dari masyarakat, sebuah dunia yang tidak menjanjikan dan tidak inspiring untuk mas depan mereka serta masa depan bangsa. Jika yang demikian memang benar adanya, maka bagaiman kita membangun optimisme masa depan bangsa yang sarat dengan kompetisi? Pada level global sekarang muncul kesadaran baru tentang pentingnya pendidikan yang memberikan kepedulian pada ekologi. Kesadaran ini didasari oleh sebuah fakta, bahwa kemajuan ilmu pengetahuan yang bersifat positif, yang muncul pada era sekarang ternyata dinilai telah membawa implikasi yang sangat serius, berupa kehancuran ekosistem, baik lingkungan maupun social. Melihat kenyataan seperti ini pendidikan harus memberikan perhatian pada aspek kultural dan ekologi, bukanya berfokus pada pengajaran kognitif dan pelatihan ketrampilan teknis. Dengan ungkapan lain, salah satu agenda penting penidikan dimasa depan adalah bagaimana mengatasi krisis kemanusiaan, termasuk persoalan krisis makna hidup. Kalau kita ikuti beberapa literature yang berkembang dibarat, sekarang ini bnyak sekali bermunculan buku-buku pendidikan, filsafat maupun juga ilmu-ilmu social, yang meluncurkan kritik sangat pedas terhadap terhadap kegagalan ideologi kapitalisme dan sosialisme, karena keduanya ternyata gagal membuktikan dirinya sebagai model untuk menyelenggarakan kehidupan social sebagaimana yang telah dijanjikan. Namun begitu, pihak umat beragama juga memiliki problem besar karena ajaran agama yang secara normative selalu disanjung dan dibela, ketika sampai pada pelaksanaan empiris selalu mengalami kegagalan. Trend global yang harus disikapi oleh kalangan pendidik ialah menguatnya isu ataupun gelombang dekratisasi, hak asasi manusia, kesadaran ekologis, pluralism agama dan budaya, serta pasar bebas. Sekalipun tema-tema itu bersifat umum ataupun global, pengaruhnya terhadap pola-pikir dan prilaku masyarakat sangat signifikan. Untuk menyikapi ternd ini, dunia pendidikan merupakan tyempat yang pertama dan utama. Dalam kompetisi global, sekalipun Negara memiliki sebuah SDA yang melimpah, jika tidak didukung SDM yang memadai Negara tersebut akan kalah bersaing. Ada sebuah buku yang mengesankan saya yang ditulis oleh Amartya sen, pemenang hadiah nobel berasal dari india, yang berjudul “development as freedom”. Bahwa tolak ukur keberhasilan politik, ekonomi maupun pendidikan adalah seberapa jauh semua usaha itu bias memberikan ruang dan fasilitas yang lebih luas bagi pengembangan kepribadian dan kebebasan masyarakat. Dengan kata lain, proses dan hasil pembangunan dinilai gagal jika tidak bias meningkatkan harkat manusia. Tren pendidikan abat 21 kelihatanya lebih berorientasi pada pengembangan potensi manusia, bukan memusatkan pada kemampuan teknikal dalam melakukan eksplorasi dan eksploitasi alam sebagaimana yang terjadi pada abad 20. Pergeseran ini bukan hanya didorong oleh kenyataan terjadinya krisis ekologi. Tetapi juga oleh hsail riset terutama dalam bidang neropsikologi menunjukan bahwa potensi manusia yang sudah teraktualisasi masih sangat sedikit, baru seekitar 10%. Dengan begitu masa depan peradapan manusia masih sangat sulit untuk diprediksikan karena kemungkina besar masih akan terjadi berbagai inovasi yang mengejutkan baik dalam aspeknya yang positif maupun negative. Dalam dunia pendidikan telah muncul beberapa istilah yang bersifat pembaharuan seperti, “quantum learning”, “accelerated learning”. “learning revolution” dan “active learning”. Asumsinya ialah jika manusia mampu menggunakan kemampuan nalarnya dan emosinya secara jitu akan mampu membuat loncatan pretasi yang tidak bias digunakan sebelunya. Dengan metode yang tepat seseorang bias meraih prestasi belajar secara berlipat ganda. Hal ini tentu saja merupakan peluang bagi kalanga pendidik Maupun calon pendidik. Akan tetapi, jika bangsa Indonesia terlambat dalam mengapresiasi berbagai temuan mutkhir dalam bidang metodologi pendidikan, maka kita akan semakin tertinggal dibelakang. Tetapi sekali lagi, kita tidak boleh terjebak dalam proses pendidikan dan pengajaran yang hanya melahirkan sarjana bermental tukang dan mental pengawal yang miskin imajinasi dan lemah karakter. Pendidikan harus bersifat inspiratif dan liberatif, pendidikan itu harus membebaskan manusia. Bebas dari apa? Dari kebodohan, dari keterbelakngan, dari ketertinggalan, dari penindasan dan dari berbagai hal yang membelenggu pertumbuhan manusia. Berikutnya yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini sekian banyak literature mutakhir dalam masalah pendidikan yang banyak berkembang diluar negri khususnya Negara maju, sangat lambat masuk di Indonesia dan bahkan mungkin tidak dikenal. Kalau toh buku-buku itu masuk kurang memperoleh respon yang serius dari kalangan pendidik. sayang sekali kalau tidak ada sebuah terobosan baru dalam dunia pendidikan dan pengajaran, sudah pasti posisi bangsa ini akan semakin terpinggirkan ditengah menguatnya ekspansi kekuatan asing dan globalisme informasi, ekonomi, dan ilmu pengetahuan. Dalam beberapa literature istilah “student” diganti dengan ‘learner” ini merupakan sebuah kesadaran baru bahwa yang harus diutamakan ialah peran anak didik sebagai actor. selama ini yang lebih ditonjolkan adalah guru atau dosen, sementara murid atau mahasiswa diposisikan sebagai objek atau bagaikan kaleng tabung untuk menapung petuah-petuah dosen. Metode ini sudah banyak dikecam oleh para ahli sekalipun dinegri ini masih sangat kental. Salah satu prinsip dari “active learning” adalah belajar itu harusnya mengasikan dan berlangsung dalam suasana gembira sehingga pintu masuk untuk informasi baru akan lebih terbuka dan terekam dengan baik. Konsep inilah yang seharusnya dikembangkan pada fakultas pendidikan di UIN sunan kalijaga Yogyakarta ini, bagaimana mencetak guru-guru yang mampu mengubah kelas menjadi suasana yang kompetitif, aktif dan menggembirakan. Usaha LPTK adalah usia yang tidak bisa ditunda-tunda. Dan apabila pihak LPTK dan pihak pendidik/dosen tidak merespon masalah ini, saya kawatir bahwa jangan-jangan benih-benih pendidik yang unggul akan mati ditangan LPTK dan dosen yang memang tidak kompeten dalam mendesain pembelajaran. Peserta didik dikirim kelembaga pendidikan “perguruan tinggi” bukanya berkembang, tapi tapi yang terjadi malah sebuah proses pembodohan. Perguruan tinggi telah mencetak bonsai-bonsai, sebuah bibit pohon besar diubah menjadi kerdil. Mahasiswa dididik/didesain untuk diseragamkan menjadi produk masal dan kreativitas mereka disumbat. Masing-masing rumah pengetahuan itu lorongnya saling berhubungan sehingga menghasilkan gagasan-gagasan asosiatif, sintetis, kritis, dialektis dan seterusnya. Yang pada giliranya ibarat sebuah pohon akan melahirkan kerimbunan yang penuh dengan muatan ilmu dan pengetahuan. jadi ketika diteliti saraf-saraf otak yang aktif itu bagaikan pohon yang rimbun, yang saling berkaitan. Kalau kita melihat proses pendidikan yang berlangsung, terdapat kesan kuat bahwa proses pembelajaran yang berlangsung kurang memperhatikan potensi individual dan potensi sserta kinerja otak dan emosi. Kinerja otak itu ibarat bola lampu. Jika dilatih bias mengeluarkan cahaya pengetahuan kesegala penjuru karena jaringan otaknya berkesinambungan membentuk bulatan bola yang dihubungkan oleh sel-sel saraf yang milyaran jumplahnya. Dalam pendekatan lain, pendidikan yang baik ialah yang mampu mengaktifkan otak kanan dan bukan hanya otak kiri, otak kanan memiliki kemampuan imajinatif, holistic, kreatif dan bias menghasilkan ide-ide “subyektif” diluar pakem yang bias dianut oleh otak kiri yang bersifat linier dan analitis. Jadi yang bagus memang menciptakan keseimbangan. Model pembelajaran active learning tepat untuk dijadikan rujukan dan komparasi khususnya dikalangan perguruan tinggi untuk menjadikan proses pendidikan pendidikan lebih sehat dan lebih menjanjikan dimasa depan generasi bangsa sehingga mereka yang memiliki bibit unggul bukanya malah mati di perguruan tinggi. Kata pakar pendidikan, dosen yang baik ialah dosen yang bias belajar dari mahasiswanya. Mahasiswa adalah “dosenya” dosen. Dan setiap mahasiswa ialah sebuah dunia yang unik yang perlu dipahami secara individual. Seorang akan menjadi dirinya berdasarkan kepribadianya yang unik itu. Dengan demikian seorang dosen haruslah memiliki kemampuan berempati, menjadi pendengar yang baik dan bisa menjadi fasilitator bagi anak didiknya dalam memecahkan problemnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar